imkj

Minggu, 07 Desember 2008

try out di jambi

hai anak-anak sma di jumpbee, kami dari IMKJ (ikatan mahasiswa kota Jambi) mw mengadakan Tryout spmb di jambi, kami mengundang rektor unand(universitas Andalas), acara di adakan di Gor, pokokna acaranya asik... ada game, presentasi dari rektor unand gmna cara masuk universitas andalas, ada bedah kampus....n banyak lagi... acaranya di adakan bulan januari loe..tunggu aja informasi selanjutnya

Rabu, 12 November 2008

kuantitatif ayam kampung

KARAKTERISTIK KUANTITATIF AYAM KAMPUNG DI KECAMATAN JAMBI TIMUR KOTA JAMBI

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kebutuhan terhadap ayam Kampung semakin meningkat selain untuk memenuhi kebutuhan protein hewani juga disebabkan karena kepercayaan masyarakat terhadap daging ayam kampung yang lebih alami dibandingkan dengan ayam jenis lainnya. Akan tetapi peningkatan kebutuhan terhadap ayam kampung ini tidak diimbangi dengan jumlah populasi ayam kampung pada masing-masing daerah di Indonesia. Kurangnya perhatian terhadap ayam kampung merupakan salah satu faktor penyebab populasi ayam kampung semakin menurun.

Jika dibandingkan dengan ternak lain, ayam kampung memiliki kelebihan yang cukup banyak, ayam kampung pemeliharaannya mudah atau sederhana dan biaya yang dikeluarkan murah. Selain itu ayam kampung mempunyai daya tahan tubuh yang tinggi terhadap penyakit jika dibandingkan dengan ayam ras. Pemasaran ayam kampung cukup mudah, masyarakat Indonesia rata-rata lebih menyukai daging ayam Kampung dibanding daging ayam ras, harga jual ayam Kampung lebih tinggi dari pada ayam ras begitu juga harga telurnya

Keragaman ukuran tubuh hewan disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan. Ukuran tubuh ayam yang penting untuk diamati dan dapat dijadikan penentu karakteristik antara lain adalah bobot badan, panjang tarsometatarsus, panjang tibia, panjang femur, tinggi jengger, dan jarak tulang pubis untuk ayam betina.

Perumusan Masalah

Bagaimanakah ukuran dan keragaman karakter kuantitatif (panjang tarsometatarsus atau tulang kaki, panjang tibia, panjang femur, jarak tulang pubis, panjang sayap, panjang jari ketiga, bobot telur, panjang taji dan bobot badan) ayam Kampung di Kecamatan Jambi Timur.

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data dasar mengenai penampilan kuantitatif berupa ukuran-ukuran tubuh ayam kampung. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang ayam kampung sehingga dapat digunakan untuk program pengembangan dan pemurnian plasma nutfah ayam kampung. Disamping itu juga diharapkan berguna untuk usaha peningkatan mutu genetic ayam kampung melalui seleksi dan perkawinan.

TINJAUAN PUSTAKA

Hutt (1949) berpendapat bahwa ayam-ayam piara berasal dari lebih dari satu spesies ayam hutan, tetapi ayam hutan merah merupakan moyang sebagian besar ayam piara yang ada sekarang. Selanjutnya Suharno (1996) menyatakan bahwa nenek moyang ayam adalah ayam hutan (genus Gallus) yang terdiri dari Gallus gallus atau Gallus bankiva, Gallus sonnerati, Gallus lafayetti dan Gallus varius.

Ayam lokal Indonesia merupakan hasil domestikasi ayam hutan merah (Gallus gallus) dan ayam hutan hijau (Gallus varius). Ayam hutan merah di Indonesia ada dua macam yaitu ayam hutan merah Sumatera (Gallus gallus gallus) dan ayam hutan merah Jawa (Gallus gallus javanicus). Hasil domestikasi ini secara umum disebut ayam buras. Ayam-ayam buras yang sekarang ini telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia telah menjadi ayam-ayam buras dengan morfologi yang beraneka ragam (Mansjoer, Waluyo dan Priyono, 1993).

Martojo (1992) dan Warwick, Astuti, dan Hardjosubroto (1995) menjelaskan bahwa sifat kuantitatif dipengaruhi oleh sejumlah besar pasang gen, yang masing-masing dapat berperan secara aditif, dominant dan epistatik dan bersama-sama dengan pengaruh lingkungan (non-genetik), dan tidak dapat dibedakan dengan jelas.

Nozawa (1980) melaporkan bahwa keragaman ukuran tubuh hewan disebabkan oleh factor genetik dan lingkungan. Ukuran tubuh ayam yang menentukan karakteristik antara lain : bobot badan, panjang bagian-bagian kaki (tarsometatarsus), jarak tulang pubis (tulang panggul) untuk ayam betina, panjang tulang kering (tibia), panjang tulang paha (femur) dan tinggi jengger.

Rasyaf (1987) mengemukakan bahwa ada tiga sistem pemeliharaan ayam Kampung di Indonesia yaitu system ekstensif, semi intensif, dan intensif. Pemeliharaan secara intensif dilakukan dengan empat prinsif, yaitu kandang sehat, pakan teratur, vaksinasi berkala dan biosekuriti.

Soedirdjoatmodjo (1984) menyatakan bahwa pemeliharaan ayam kampung di Indonesia sebagian besar dilakukan secara tradisional atau ekstensif, dimana ayam dibiarkan lepas berkeliaran di halaman, makan dengan memanfaatkan sisa dapur dan apa yang ada dipekarangan rumah serta diberikan dedak dan sedikit butiran, sehingga produksinya masih rendah.

MATERI DAN METODA PENELITIAN

Materi Penelitian

Penelitian ini menggunakan sampel ayam kampung sebanyak 120 ekor yang terdiri dari 20 ekor jantan dan 100 ekor betina yang sudah dewasa kelamin. Pada ayam jantan yang diamati adalah ayam yang sudah dewasa kelamin dan mempunyai panjang taji, sedangkan pada ayam betina yang diamati adalah ayam yang sudah bertelur. Pengamatan dilakukan pada peternakan rakyat di Kecamatan Jambi Timur Kota Jambi.

Alat-alat yang digunakan untuk pengamatan penampilan kuantitatif ayam kampung yaitu timbangan dengan kapasitas lima kilogram (Da peng, Five Goats), pena, kertas dan alat ukur berupa jangka sorong (Rabone, superpolyamid, mm).

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan Metoda Survey. Pengambilan sampel dilakukan dengan multistage random sampling, pengukuran dilakukan secara langsung, dimana ayam-ayam tersebut dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin jantan dan betina.

Peubah yang diukur dalam penampilan kuantitatif adalah panjang tarsometatarsus, panjang tibia, panjang femur, jarak tulang pubis, bobot badan, panjang sayap, panjang jari ketiga, bobot telur, panjang taji.

Analisis Data

Analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dengan menghitung mean (rataan), simpangan baku dan ragam dari populasi sampel. Analisa dilakukan dengan mengelompokkan ayam kampung berdasarkan jenis kelamin jantan dan betina, dengan menggunakan rumus (Sudjana, 1989) :

S =

Dimana = Nilai rata-rata pengamatan atau rata-rata sampel

= Penjumlahan

= Nilai pengamatan ke-i

n = Jumlah Sampel

S = Standar Deviasi

Tempat dan waktu penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Kecamatan Jambi Timur Kota Jambi. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari tanggal 2 Mei 2008 sampai 20 Mei 2008.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Rata-rata dan Simpangan Baku Sifat-sifat Kuantitatif Ayam Kampung.

N0

Peubah yang diamati

Rata-rata

N = 20

N = 100

1

Panjang Tarsometatarsus (mm)

87,21 ± 7,62

67,77 ± 7,56

2

Panjang Tibia (mm)

128,79 ±11,12

104,27 ± 9,44

3

Panjang Femur (mm)

106,32 ±10,63

91,67 ± 7,56

4

Jarak antara tulang pubis (mm)

_

43,37 ± 4,36

5

Bobot badan (Kg)

1,73 ± 0,35

1,25 ± 0,21

6

Bobot telur (g)

_

35,56 ± 5,27

7

Panjang Sayap (mm)

166,56 ±14,69

148,26 ± 14,26

8

Panjang jari ketiga (mm)

51,14 ± 3,76

43,34 ± 4,32

9

Panjang taji (mm)

14,56 ± 8,02

-

1. Panjang Tarsometatarsus

Dari Tabel 1 didapatkan rata-rata panjang tarsometatarsus pada ayam Kampung jantan dan betina yaitu 87,21 ± 7,62 mm dan 67,77 ± 7,56 mm.

2. Panjang Tibia

Dari Tabel 1 didapatkan rata-rata panjang tibia pada ayam Kampung jantan dan betina yaitu 128,79 ± 11,12 mm dan 104,27 ± 9,44 mm.

3. Panjang Femur

Dari Tabel 1 didapatkan rata-rata panjang femur pada ayam Kampung jantan dan betina adalah 106,32 ± 10,63 mm dan 91,67 ± 7,56 mm.

4. Jarak Tulang Pubis

Dari Tabel 1 rata-rata jarak tulang pubis pada ayam Kampung betina yaitu 43,37 ± 4,36 mm.

5. Bobot Badan

Dari Tabel 1 didapatkan rata-rata bobot badan pada ayam Kampung jantan dan betina yaitu 1,73 ± 0,35 Kg dan 1,25 ± 0,21 Kg.

6. Bobot Telur

Dari Tabel 1 didapatkan rata-rata bobot telur pada ayam Kampung betina adalah 35,56 ± 5,27 gr.

7. Panjang Sayap

Dari Tabel 1 rata-rata panjang sayap pada ayam Kampung jantan dan betina yaitu 166,56 ± 14,69 mm dan 148,26 ± 14,26 mm..

8. Panjang Jari Ketiga

Dari Tabel 1 rata-rata panjang jari ketiga pada ayam Kampung jantan dan betina yaitu 51,14 ± 3,76 mm dan 43,34 ± 4,32 mm.

9. Panjang Taji

Dari Tabel 2 didapatkan rata-rata panjang taji pada ayam Kampung jantan yaitu 14,56 ± 8,02 mm.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Karakteristik kuantitatif ayam Kampung jantan dan betina masih bervariasi

2. Keragaman sifat kuantitatif pada ayam Kampung jantan dan betina yang paling tinggi adalah panjang sayap.

Saran

Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa karakteristik kuantitatif ayam Kampung masih beragam terutama pada panjang sayap. Untuk itu penulis menyarankan dalam program pemuliaan ayam Kampung salah satunya dapat dilakukan dengan program seleksi.

DAFTAR PUSTAKA

Hutt, F.B. 1949. Genetics of the Fowl. McGraw-Hill Book Company, Inc. New York, Toronto, London.

Mansjoer, S.S., S.P. Waluyo dan S.N. Priyono. 1993. Perkembangan berbagai jenis ayam asli Indonesia. Fakultas Peternakan IPB, Bogor.

Martojo, H. 1992. Peningkatan mutu genetik ternak. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB, Bogor.

Nozawa, K. 1980. Phylogenetic Studies on Native Domestic an Animal in East and Shoutheast Asia. Tropical Agriculture Research Center, Japan IV : 23-43.

Rasyaf, M. 1987. Beternak Ayam Kampung. Penerbit penebar swadaya, Jakarta.

Soedirdjoadmodjo. 1984. Beternak Ayam Kampung sebagai Usaha. Percetakan B.P.Karya Bani, Jakarta.

Sudjana, M.A. 1989. Metoda Statistika . Penerbit Tarsito, Bandung.

Suharno, B. 1996. Agribisnis Ayam Buras. Penebar Swadaya, Jakarta.

Warwick, E.J., J.M, Astuti dan W. Hardjosubroto. 1995. Pemuliaan Ternak Fakultas Peternakan. UGM, Yogyakarta.